REBO WEKASAN , SEBUAH TRADISI DI RABU TERAKHIR BULAN SAFAR
TERDAPAT TRADISI APA DIBULAN SAFAR YANG MASIH DIYAKINI OLEH SEBAGIAN MASYARAKAT?
Karena
keyakinan ini, sebagian orang menghimbau untuk melakukan bentuk ibadah khusus
pada hari itu. Terutama orang syiah. Di berbagai forum online, mereka sangat
antusias membicarakan rebo wekasan ini. Tidak lupa mereka sebutkan sederet
amalan sebagai upaya tolak balak, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan
dalam islam.
Di
antara amalan tersebut adalah mengerjakan shalat empat raka’at dengan satu kali
salam, dalam rangka tolak balak. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha atau
setelah terbit matahari. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian
surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq
dan An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca surat Yusuf ayat 21
yang berbunyi:
وَاللَّهُ
غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.
“Dan
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”
Ayat
ini dibaca sebanyak 360 kali, kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga
kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:
سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Kegiatan
ini dilanjutkan dengan memberikan sedekah makanan kepada fakir miskin. Tidak
cukup sampai di situ, ada juga yang menyuruh untuk membuat rajah-rajah dengan
model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur,
bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.
Mereka berkeyakinan, siapa yang melakukan ritual tersebut pada rebo wekasan, dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.
اعلم…أن
مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من
صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن
أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا
الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط
بعض الصالحين
Ketahuilah bahwa
sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan
diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar.
Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada
hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah
di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama.
Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari
keburukan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang
shaleh.
Sebagai
orang beriman dan meyakini bahwa sumber syariat adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi
Saw. tentu saja berita semacam ini tidak boleh kita percaya. Karena kedatangan
bencana di muka bumi ini, merupakan sesuatu yang ghaib dan tidak ada yang tahu
kecuali Allah. Satu-satunya cara untuk mengetahui hal itu adalah melalui wahyu
Al-Quran dan sunah. Sementara dalam kutipan itu penulis sama sekali tidak
menyebutkan sumber selain klaim bahwa itu tulisan orang shaleh. Terlebih tidak
ada keterangan dari sahabat maupun ulama masa silam yang menyebutkan hal ini.
Lajnah
Daimah pernah ditanya tentang ritual rebo wekasan yang dilakukan di akhir
safar. Jawaban yang diberikan,
هذه
النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلا من الكتاب ولا من السنة، ولم يثبت
لدينا أن أحدا من سلف هذه الأمة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة، بل هي بدعة منكرة،
وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه
فهو رد. ومن نسب هذه الصلاة وما ذكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد
من الصحابة رضي الله عنهم فقد أعظم الفرية، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة
الكذابين. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
Amalan seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, tidak kami jumpai dalilnya dalam Al-Quran dan sunah. Tidak juga kami ketahui bahwa ada salah satu ulama masa silam dan generasi setelahnya yang mengamalkan ritual ini. Jelas ini adalah perbuatan bid’ah, yang mana setiap perkara bid’ah itu sesat, tertolak dan menyesatkan. sebagaimana terdapat hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda
من
أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barang
siapa yang membuat suatu perkara baru dalam agama lami ini yang tidak ada
asalnya, maka perkara tersebut tertolak (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no.
1718)
Kembali
kepada fenomena zaman sekarang. Bulan safar sendiri secara kebiasaan terletak
di bulan September, yang mana jika dilihat dalam kalender Masehi ini merupakan
salah satu bulan yang terletak di penghujung akhir tahun. Oleh karena itu tak
sedikit dari orang-orang yang mulai melakukan kemaksiatan dengan dalih kemeriahan
yang sifatnya umum serta duniawi saja, sehingga bisa dikatakan bahwa akhir
tahun merupakan puncak dari kemaksiatan.
Adapun
jika kita berkeyakinan, akan ada bencana besar yang menimpa umat manusia di
malam tahun baru disebabkan banyaknya dosa dan maksiat, maka layak kita
benarkan. Karena sebab terbesar datangnya musibah yang menimpa manusia adalah
dosa dan maksiat yang menimpa mereka.. Hal ini telah Allah tegaskan dalam
al-Quran
وَمَا
أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Apapun
musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan perbuatan maksiat yang kalian
lakukan.” (QS. As-Syura: 30)
Sudah
menjadi rahasia umum, malam tahun baru menjadi salah satu momen paling ramai
melakukan pesta zina. Tidak salah jika kita sebut, hari zina internasional.
Inilah yang sejatinya lebih mengerikan, dimana manusia secara terang-terangan
melakukan pesta maksiat, adanya tradisi ataupun musibah ini sudah berlansung
lama tanpa ada penanganan serius dalam mengatasinya.
Dari
Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ
ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ
الْمَوْتَ
“Jika perbuatan
kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah
masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (HR. Hakim
2577 dan dinyatakan oleh Ad-Dzahabi: Sesuai syarat shahih Muslim)
Allahu Akbar,
bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan. Gara-gara perbuatan mereka yang
tidak bertanggung jawab itu, kemudian menjadi sebab Allah menimpakan berbagai
bencana yang membinasakan banyak manusia. Tahun baru telah menyumbangkan
masalah besar bagi masyarakat.
Ini yang
seharusnya kita takutkan. Allah datangkan bencana disebabkan maksiat. Bukan
rebo wekasan hasil tahayul orang sufi. Allah tidak menciptakan hari rebo
terakhir di bulan safar sebagai sumber sial. Namun dosa dan maksiat yang
dilakukan manusia, itulah sumber sial dan malapetaka.
Hal ini juga
sebagaimna dikisahkan dalam Al-Qur’an apa yang Allah timpakan kepada kaum Nabi
musa dalam Quran Surat Al-A’raf ayat 155
وَاخْتَارَ مُوسَى
قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ
قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا
بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ
تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ
Musa memilih tujuh
puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya
Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku
sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang
BODOH di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan
cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa
yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan
berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS.
Al-A’raf: 155)
Berusahalah untuk memperbanyak istighfar kepada Allah. Memohon ampunan kepada-Nya. Semoga dengan banyaknya istigfar yang kita ucapkan di malam zina ini, Allah berkenan mengampuni kita. Sebagaimana Musa memohon ampunan kepada Allah, disebabkan ulah kaumnya yang bodoh, yang mengundang murka Allah.
Allahu a’lam
(Oleh: Ahmad Akbar -Wakil Ketua IKMA Masa Jihad 2024-2027)

Comments
Post a Comment