KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM
Bismillah...
Ashshalatu wa Assalamu ‘ala Rosulillah, amma ba’d
Setelah
selesainya bulan Dzu al-Hijjah menandakan akhir dari tahun sebelumnya, kemudian
kita masuk ke dalam tahun baru islam yang diawali dengan bulan Muharram. Kebanyakan
manusia lalai pada bulan ini yang padahal keutamaan bulan ini sangat besar dan merupakan kebiasaan para salaf
mengagungkan sepuluh hari pertama bulan Muharram, al-Imam Ibnu Rajjah dalam
kitab Lathaifu al-Ma’arif menukil perkataan Abu 'Utsman an-Nahdhi, beliau
mengatakan:“Para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama: Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, sepuluh hari pertama bulan Dzu al-Hijjah dan sepuluh hari pertama
bulan Muharram”.
Dalam al-Qur'an Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ
اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat
bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya
diri dalam bulan yang empat itu". [Qs. at-Taubah :36]
Empat
bulan haram yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bulan Muharram, bulan
Rajjab, bulan Dzu al-Qa'dah dan bulan Dzu al-Hijjah. Para Sahabat dan Ulama Ahli
Tafsir menjelaskan maksud “Jangan menganiaya diri” dalam ayat tersebut,
di antarannya Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu menjelaskan:
في كلهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما، وعظم حرماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم
“(Janganlah kalian menganiaya
diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan
sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga
menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar. Demikian pula,
Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan di dalamnya
lebih besar pula”. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/26).
Kemudian
pakar tafsir dari kalangan tabi’in, Qotadah rahiemahullah tatkala menafsirkan
ayat tersebut beliau menjelaskan:
فإن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئةً ووِزْرًا، من الظلم فيما سواها, وإن كان الظلم على كل حال عظيمًا، ولكن الله يعظِّم من أمره ما شاء
“Karena kedhaliman yang
dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dari pada
kedhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya. Walaupun dhalim dalam
setiap keadaan itu (pada hakekatnya) perkara yang besar (terlarang), akan
tetapi Allah menetapkan besarnya sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya".
Beliau
juga mengatakan:
ان الله اصطفى صَفَايا من خلقه، اصطفى من الملائكة رسُلا ومن الناس رسلا واصطفى من الكلام ذكرَه, واصطفى من الأرض المساجد, واصطفى من الشهور رمضانَ والأشهر الحرم, واصطفى من الأيام يوم الجمعة, واصطفى من الليالي ليلةَ القدر, فعظِّموا ما عظم الله, فإنما تعظم الأمور بما عظَّمها الله عند أهل الفهم وأهل العقل
“Sesungguhnya Allah telah
memilih di antara makhluk-Nya, hamba-hamba pilihan-Nya, memilih para utusan dari
kalangan malaikat dan dari kalangan manusia. Dia memilih suatu firman (agar
hamba-Nya bisa) mengingat-Nya, memilih tempat dari wilayah bumi untuk digunakan
melakukan salat/sujud".
Sehingga
kita menemukan kesimpulan bahwa di antara keutamaan yang telah Allah tetapkan
bagi bulan-bulan haram terkhusus di bulan Muharram ini adalah dilipatgandakannya
pahala bagi seorang yang mengerjakan amalan shalih, sehingga seorang hamba akan
lebih giat melakukan amalan kebaikan pada bulan-bulan tersebut. Begitu pula,
perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah,
sehingga seorang hamba bisa meraih ketakwaan yang lebih tinggi dari bulan-bulan
sebelumnya, dengan semakin menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian,
kebahagiaan, ketenteraman, dan keselamatan di dunia dan akhirat bisa terwujud.
Pada bulan Muharam terdapat hari 'Asyura
Tanggal
10 Muharram atau hari 'Asyura menjadi hari istimewa bagi beberapa agama, bagi
kaum muslimin hari 'Asyura menjadi hari yang istimewa untuk berpuasa, karena
Nabi 'alaihi shalatu wa salam mengatakan dalam sebuah hadis bahwa puasa 'Asyura dapat menghapus dosa satu tahun. Dari Abu Qatadah al-Anshari radliyallahu 'anhu,
beliau mengatakan:
سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة
"Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa 'Asyura, kemudian beliau
menjawab:“Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat". (HR.
Muslim dan Ahmad)
Bahkan
Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain mengatakan:
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram”. (HR. Muslim)
Bagi orang-orang Yahudi hari 'Asyura menjadi hari yang istimewa, karena Allah telah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Isra’il dari kejaran Fir’aun. Dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma, beliau mengatakan:
قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ
تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ
. فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى
مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».
"Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa 'Asyura. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah”. (HR. Bukhari)

Comments
Post a Comment