DZULHIJJAH MENYAPA SANUBARI
MERUGI ORANG YANG MENGABAIKANNYA
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala
puji hanya untuk dzat yang telah menurunkan hadis yang paling mulia
(al-Qur’an), Shalawat serta Salam atas Rasul al-Musthafa ﷺ, dan kepada yang menukil dan menyebarkan
hadis-hadisnya.
Sesuatu
yang sunyi namun dalam di balik datangnya bulan Dzulhijjah. Ternyata
bukan hanya sekadar bulan terakhir menuju penutupan tahun Hijriyyah,
tapi semacam panggilan halus yang mengetuk dan memeluk Sanubari siapa saja yang
menyadarinya dan ingin kembali pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sepuluh
hari pertamanya, Allah meletakkan keutamaan yang bahkan melebihi hari-hari lain
sepanjang tahun. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan malam yang sepuluh”. (Q.S. Al-Fajr [89]: 2)
Ibnu
‘Abbas dan mayoritas Mufassir dari kalangan Salaf maupun Khalaf,
dan dalam kitab Shahih al-Bukhari telah disebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas
secara Marfu’:
مَا العَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ،
قَالُوا: وَلاَ الجِهَادُ؟ قَالَ: وَلاَ الجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ
يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ
“Tidak ada amal yang lebih utama dari
amal yang dilakukan pada hari-hari ini. Para sahabat bertanya;’Bahkan tidak
juga jihad?’ Beliau ﷺ menjawab:’Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar
(berjihad) dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan
membawa apa-apa’”.
(H.R. Al-Bukhari, No. 969)
Yakni sepuluh
hari di bulan Dzulhijjah (Tafsir Ibnu Katsir [Terj]: 10/335)
Mungkin aku
bukan orang yang bisa berangkat haji tahun ini, bahkan mungkin belum tahu kapan
raga ini bisa menginjakkan kakinya di tanah suci di mana Nabi ﷺ menginjakkan kakinya di sana. Tapi rindu
itu selalu datang saat melihat jutaan manusia dari berbagai tempat dari belahan
penjuru dunia ini berthawaf mengitari Ka’bah, menangis di ‘Arafah,
menyatu dalam lautan doa harapan pelukan hangatnya. Sungguh suatu pemandangan
yang memaksa air mata untuk menunjukkan eksistensinya ketika melihat jutaan manusia
bersujud, tidak peduli mereka adalah seorang raja (pemimpin di negaranya),
seorang yang berilmu, seorang yang kaya atau miskin, yang kuat atau lemah,
mereka bersujud pada Dzat yang menguasai dan memelihara seluruh alam semesta.
Kurang dari
itu, mungkin salah satu di antara kita masih bisa berkurban di tahun ini.
Namun, ingin aku belajar makna kurban lebih dalam. Bahwa kurban bukan hanya
tentang menyembelih kambing atau sapi, tapi juga tentang menyembelih
kesombongan, keakuan, dan berusaha terlepas dari jeratan rantai dunia. Bisa
jadi semua itu sulit, tapi bukankah itulah ujian Nabi Ibrahiem ‘alaihi
al-salam?
Setelah
berkurban, dihidangkannya makanan hasil sembelihan. Alhamdulillah dan In Sya
Allah kita masih bisa makan dengan enak dalam ketenangan dan sukacita. Namun,
aku teringat saudara-saudaraku atau kita sekalian yang masih berada di bawah
injakan kaki orang-orang yang Allah hidangkan siksaan dan tempat yang buruk di
akhirat nanti, aku sangat yakin akan hal itu, dengan apa saudara-saudara kita makan
pada hari raya nanti? Atau mereka sudah akan menjumpai rabbnya dengan hati yang
tenang setenang samudera yang dalam? Sungguh jiwa ini mengutuk dirinya ketika
hanya bisa melihat semua itu terjadi, layaknya tangan yang hanya mengibaskan
dirinya ketika ada lalat yang hinggap di pipi. Namun doa selalu aku panjatkan
atas mereka, saat aku berada di keheningan malam yang hanya Allah lah yang
mampu mendengar doa dari Sanubari ini.
Dzulhijjah
juga mengingatkanku bahwa hidup ini bukan soal siapa yang lebih cepat
ketika meletakkan kening di atas tanah, tapi siapa yang lebih ikhlas. Bukan
tentang banyaknya amal yang dilihat oleh manusia, tapi tentang amal-amal kecil
yang hanya dilihat olehnya (Allah). Semoga Duzlhijjah ini tidak sekedar
lewat tanpa menyapa, tetapi ia tinggal di dalam jiwa ini, tinggal pada setiap
langkahku menuju akhir yang baik.

Comments
Post a Comment